Wednesday, October 31, 2007
Dret….dret…..dret…Getaran ponsel yang diikuti dengan alunan lagu Eternal Flame milik The Bangles mengagetkan Tamara, buru-buru dikeluarkannya dari saku celana jeans, Motorola mungil berwarna hitam yang dibelinya sendiri dari hasil memberikan les privat semasa kuliah dulu.
1 message received
Tertulis dilayar ponselnya. Tamara segera membukanya, ternyata dari Dila teman semasa SMA dulu, walau berlainan sekolah, mereka berteman cukup dekat karena sama-sama anggota paduan suara di gereja.
Dil, dah bc brt klrga mgg kmrn? Adit mo married loh…
Kening Tamara berkerut membaca isi sms tersebut.
“ Mi punya berita keluarga yang minggu kemarin,?” Tanya Tamara pada Mami yang sedang duduk menonton teve sambil menikmati teh hangat. Mami menunjuk tas hitam diatas rak pada lemari tivi, Tamara merogoh tas Mami dan menemukan apa yang dicarinya.
Akan menikah
Raditya Wiguna putra dari Bp.Surya Wiguna dan Ibu. Dewi Wiguna
Dengan Riska Saputra putri dari Bp. Alex Saputra dan Ibu Melly Saputra
“ ada apa memangnya, Tam?”
Tanya Mami kemudian karena melihat Tamara yang sesaat terdiam.
“ ga, Adit mau nikah Mi”
Jawab Tamara seraya menyodorkan kertas Berita Keluarga kepada Mami dan kemudian ikut duduk disofa diseberang Mami.
“ oh..ini adit mantan pacar kamu dulu…kirain bukan… wah..cepet juga ya…”
Komentar Mami.
“ iya..ya mi, padahal masih ada 3 orang lagi loh diatas adit yang belum nikah ada apa ya?”.
“ hus.. ga boleh gitu…. Kamu cemburu ya…”
selidik Mami kemudian, membuat Tamara sebal sekaligus malu dengan ucapannya tadi.
**************
“ Tam…nomor telpon kamu berapa?”
Adit memecah kesunyian yang menemani perjalanan mereka sejak turun dari kendaraan umum tadi. Seperti sabtu malam yang lalu-lalu, Tamara selalu menghabiskan malam panjangnya di Gereja untuk latihan paduan suara remaja dan kali ini Adit yang mengantarkannya pulang, kebetulan rumah mereka sejalan.
“ 478234”
Jawab Tamara cepat tanpa bertanya untuk apa. Baginya wajar jika seorang teman menanyakan nomor telpon, apalagi teman baru, agar mudah jika ada sesuatu yang perlu, hanya saja yang tak wajar adalah sikap diam Adit. Tamara merasa dirinya berjalan sendiri ditambah lagi malam sudah cukup larut, hampir jam 10 lebih. Adit mengangguk-angguk sambil merekam deretan angka yang barusan disebutkan oleh Tamara.
“ thanks ya, dit”
Ucap Tamara saat mereka sampai didepan rumahnya. Adit mengangguk dan menunggu sampai Tamara masuk kedalam rumah baru Ia berbalik, pulang kerumahnya.
Sejak malam itu Adit mulai sering menelpon Tamara, dengan polos Tamara menanggapinya biasa, lagipula sebelum bergabung dengan paduan suara, Adit sempat berpacaran dengan Michelle, yang tentunya masih teman Tamara, so obrolan pun tak jauh dari persoalan Adit dan Michelle dulu.
“ Tamara, menurut kamu, gimana kalo ada ya orang pacaran tapi cowoknya lebih muda..”
Tanya Adit suatu kali diluar masalahnya dengan Michelle.
“ ya ga pa-pa, cinta kan buta!”
Jawab Tamara cepat dan seadanya.
“ jadi ga papa?!”
Tanya Adit ingin menegaskan.
“ iya”
“ jadi kalo aku suka kamu ga papa dong ya”
Dueng!! Ups.. iya ya gue lebih tua dari adit 1 tahun….
batin Tamara
“ ha…maksud kamu?”
“ ya…aku suka kamu, kamu mau ga jadi pacar aku?”
Adit nembak Gue.
Hening.
“ kamu serius, Dit?”
“ iya aku serius… aku suka ma kamu”
“ sejak kapan…”
“ sejak konser natal....”
ya.. Tuhan..itukan udah hampir 5 bulan yang lalu…ko gue bisa ga ngeh ya?
“ tapi kenapa aku ? kamu kan baru putus ma Michelle?”
“ ya.. aku juga nggak ngerti, ya tiba- tiba aja aku jadi suka ma kamu..ga boleh ya?”
“ bukan gitu..tapi…ya sudahlah..trus mau kamu apa?”
“ya aku mau jawaban dari kamu, iya atau ngga”
“kasih aku waktu deh..seminggu ya”
Jawab Tamara akhirnya, menyesal dengan pendapatnya tadi. Jika untuk kasus orang lain, Tamara setuju umur bukanlah masalah, tapi untuk dirinya sendiri, Ia belum pernah memikirkannya, dan sekarang Ia terjebak dengan ucapannya sendiri
“ ehm…besok ajalah…pas Persekutuan doa.”
Ugh.. udah minta maksa lagi.
“ ya udah, besok malam,ya!”
Tamara menyerah, malas berargumentasi lagi. Telpon pun Ditutup.
Besok gimana besok aja! Pikir Tamara.
**************
Malam yang dinanti Adit tiba, usai Persekutuan doa, dengan perasaan senang sekaligus hati yang berdebar menanti vonis Tamara terhadap dirinya, Adit mengantarkan Tamara pulang.
“ Dit, sori aku belum mau punya komitmen ma siapa- siapa?”
Ucap Tamara begitu mereka berpisah jalan dengan beberapa teman lain yang searah rumah dengan Tamara. Adit hanya diam, dan mengangguk dengan berat hati menerima penolakan Tamara.
“ sorry ya”
Ucap Tamara sekali lagi sesaat sebelum Ia masuk kedalam rumah. Satu beban lepas namun digantikan dengan beban yang lain, perasaan bersalah membuat seseorang tersakiti walau tak ada yang bisa dipersalahkan, tidak Adit dengan perasaannya tidak juga Tamara dengan penolakannya.
Selayaknya gadis remaja yang sedang tumbuh, Tamara pun banyak menerima perhatian dari kaum adam tapi anehnya baru kali itu Tamara dihantui perasaan bersalah yang amat sangat, dimana-mana yang dilihatnya hanya wajah Adit dengan sikap diamnya.
Kenapa sih gw..ko kepikiran dia terus…..telpon aja gitu…buat apa??!
Gw suka ya ma dia…ehg..ga.. ga banget….udah ah…gw kan dah nolak dia kemaren….aagh…Nel sih.. kenapa dia ga pernah nembak gw..jadi kan gue ga usah pusing – pusing gini…nel…nyebelin..Adit?
“ haloo Dit, aku mo ketemu dong, ama kamu!”
Tamara menyerah dengan pergumulan batinnya, menyerah dari pertahanannya untuk mengabaikan seorang Adit.
“ ya udah…di taman komplek ya…”
“ ok.”
Oh..my God… apa yang gue lakuin?!
Kepalang basah Tamara memenuhi janjinya, Adit telah menunggunya di bangku taman saat Tamara datang.
“Ada apa Tam…?”
Tanya Adit kemudian.
Gue mesti ngomong apaan…damn
“ Tam…” panggil Adit lagi.
Tamara masih tetap binggung.
“ ya udah…karena gua cowok..gua yang mulai lagi…kamu mau jadi cewek aku..”
ucap Adit akhirnya, rupanya Adit bisa menebak pikiran Tamara.
Tamara mengangguk, dan sejak saat itu resmilah mereka menjadi sepasang kekasih.
**************
Tamara duduk dengan gelisah di bangku kantin gereja berdua dengan Samantha salah satu teman dekatnya yang lain setelah Dila, berhubung anak – anak punya kebiasan ngaret yang luarbiasa, bayangin sampai jarum pendek jam udah di angka 5, latihan belum juga mulai padahal jadwal resminya jam 4 teng. Tamara bingung bagaimana cara memberitahu Samantha tentang Adit.
Pasti sam marah deh… gara-gara ga diceritain dari kemaren-kemaren batin Tamara.
“ Sam…gue…gue..jadian ma Adit…”
ujar Tamara cepat dengan sekali hembusan napasnya. Samantha menghentikan kegiatannya ber-sms ria dan menatap Tamara dengan penuh selidik. Tamara coba menebar senyumnya yang paling manis tapi hasilnya adalah senyum yang buruk.
“ kapan?? ko ga cerita-cerita ma gue sih!!”
Serang Samantha kesal karena merasakan diabaikan sebagai teman terdekat.
“waktu jumat kemaren…sorry, gue juga ga ngerti, tiba-tiba aja Adit nembak…awalnya udah gue tolak tapi kemaren..ga tau lah..gue malah jadian ma dia..”
“ traktir gue makan! Pajak jadian tau!”
“ kok gitu sih..”
“ ya iyalah…..atau gue minta traktir ma adit aja deh…ya dit?”
Adit yang baru masuk kebingungan dengan maksud Samantha.
“ apaan?” Tanya Adit kemudian.
“ Tamara kan sekarang cewek lo…jadi lo harus traktir gue makan….”
Terang Samantha.
Ceweknya adit??…ooh Tuhan…beneran gue cewenya adit…ko bisa sih?
“ Tam, tadi berangkat jam berapa? Aku kerumah kamu tadi..”
“ eg..iya ya? Aku pikir kamu mau langsung kesini…”
“ nanti-nanti bareng ya perginya”
ehm…kalo punya pacar, harus bareng ya?
Tamara belum mengerti maksud Adit dan belum sepenuhnya menerima status barunya. Ditelinga Tamara, kata “pacar” dan “ceweknya Adit” terdengar aneh, sangat aneh, padahal sama seperti remaja-remaja lainnya, Tamara juga ingin punya pacar, tapi kenapa setelah menjadi kenyataan, hatinya menolak?
**************
Sepulang latihan didalam kamar merah mudanya, Tamara memutar akalnya untuk mengarang alasan yang pas untuk memutuskan Adit. Apa yang dirasakannya sepanjang hari ini membuat dirinya yakin untuk menyudahi hubungan yang baru berumur 2 hari dengan Adit.
Orangtua ya..orangtua gue ga setuju yeah..
“ itu alasan yang paling bagus”
pikir Tamara lalu mulai menuliskan dalam selembar kertas yang disobeknya dari lembaran buku catatan sekolahnya, untuk mengatakannya secara langsung Tamara tidak akan pernah sanggup. Surat satu-satunya cara.
Adit yang baik,
Sorry..kayaknya aku ga bisa sama kamu lagi. Kita harus putus. Maaf. Tapi aku ga bisa pacaran kalo orangtua aku ga ngebolehin, aku ga mungkin ngelawan mereka, aku kan masih dibiayain ma mereka, maaf ya. Aku ga maksud buat nyakitin kamu .thanks. Gbu.
Tamara melipat kertas yang telah berisi pesan perpisahan untuk Adit.
“Besok, selesai kebaktian aku kasiin Adit.”
Ucap Tamara pasti sambil menyelipkan surat pentingnya di dalam alkitab, supaya besok tidak ketinggalan. Hati Tamara lega, merasa telah mendapat pemecahan untuk masalah yang dihadapinya.
“Tidur ah..”
**************
“Tami, telpon dari Adit…”
Teriak Fanya , kakaknya, dari lantai bawah. Tamara sedang bersiap-siap di depan kaca, menghias diri untuk pergi ke gereja.
“ iya..”
Jawabnya malas dan bergeser meraih telpon diatas meja belajarnya yang diparalelkan dari telpon dibawah,di ruang teve.
“ da pa Dit?”
“ aku tunggu di depan komplek ya? Udah mo berangkat kan?“
“ bentar lagi, aku lagi sisiran, tungguin aja ya, ga lama ko”
“ oh.. ya udah, sampai nanti ya”
“ ya”
untuk yang terakhir kalinya, ga pa- palah.
Timbang Tamara dalam hati.
**************
usai kebaktian, biasanya ada latihan paduan suara dulu, hingga jam 1siang, tapi kali ini seperti yang telah Tamara rencanakan, Ia tidak akan ikut latihan. Tamara mendekati Adit selagi masih sedikit yang ada diruangan latihan.
Ya ampun ada Michelle gimana nih…ga papa lah..toh aku mau udahan ko ma Adit lagian kan blum ada yang tahu gue jadian ma adit kecuali Sam.
“Dit, aku deluan ya…”
Bisik Tamara begitu jaraknya hanya tinggal 5 cm lagi dari Adit, sambil memasukkan surat PHKnya kedalam saku kemeja calon mantan kekasihnya itu. Adit hanya memandang Tamara heran dan mengangguk mengiyakan ucapan Tamara tadi karena terikat janji untuk merahasiakan hubungannya dengan Tamara dari anak- anak yang lain Adit tidak bisa berbuat banyak selain beradu pandang dengan Dilla yang juga tak mengerti apa- apa. Tamara buru- buru pergi setelah berpamitan dengan anak- anak yang lain, jantungnya berdegup dengan kencang.
maafin gue, Dit!
ucap Tamara berulang kali dalam hati sepanjang perjalanannya pulang.
Sementara itu Adit tidak dapat menahan dirinya untuk tidak membuka kertas yang diberikan Tamara tadi, selepas Tamara pergi, Adit permisi ke toilet. Adit meremas surat Tamara, seluruh persendiannya melemas seolah tak mampu lagi menopang tubuhnya, Adit terduduk pelan diatas kloset duduk. Hatinya patah oleh kecewa dan marah. Adit tak kembali ke ruang latihan.
**************
Sorenya Gereja kembali ramai dengan orang-orang karena ada perayaan ulang tahun organisasi pemuda.
Tamara datang dengan Dilla.
“ Tam, kenapa tadi pulang deluan?”
“ males aja, gimana latiannya?”
“ biasa aja, kamu tadi bilang apa ke Adit, kalian janjiannya?”
Tamara heran kemudian menjawab dengan gelengan kepala.
“ Abis kamu pulang, Adit juga pergi…eh..itu Adit ma Rio…”
Dilla melambai pada Adit dan Rio yang baru datang, berbeda dengan Dilla, Tamara sedang tidak ingin bertemu dengan Adit setelah pesan singkat yang diberikannya tadi siang, saat ini Adit tentu sangat ingin membunuhnya.
“ La, aku pulang ya…daadahh”
Tamara semakin panik saat Adit berjalan kearahnya dan Dilla.
“ kamu ada apa sih ma Tamara?”
serang Dilla pada Adit, begitu Tamara pergi. Adit memberikan surat Tamara pada Dilla.
“ jadi kalian pernah jadian? Kapan? Bukannya waktu itu Tamara nolak kamu?”
Dilla memberondong Adit dengan pertanyaan-pertanyaan.
Adit pun menjelaskan semuanya. Dilla manggut-manggut.
“ kerumah gua yuk…”
ajak Dilla kemudian, selain untuk mendengarkan cerita detailnya juga untuk menghibur Adit yang baru patah hati.
**************
“ hallo, Dillanya ada?”
Tanya Tamara pada suara wanita diujung yang lain.
“ ya, Tamara..kamu dimana?”
Dilla menekan intonasinya pada kata Tamara, untuk memberitahu Adit dan Rio siapa yang menelpon. Tanpa Tamara tahu, Dilla memberikan telpon yang lain pada Adit,parallel jadi Adit bisa tahu semua pembicaraan Dilla dan Tamara.
“ Dilla, tadi Adit nanyain apa ke kamu?”
“ ga da, kenapa emangnya?”
“ ga da, masa sih? Dia ga cerita apa-apa”
Hati Tamara dipenuhi rasa penasaran akan apa yang dirasakan Adit saat ini tentang dirinya. Bencikah?
“ emang kalian ada apa sih?kamu suka ma dia?”
“ eg.. engga…”
“ trus kenapa jadian?”
“ egh..aku kasian ma?”
Tamara menyerah dan mengatakan yang sejujurnya karena sepertinya Dilla sudah tahu semuanya.
Adit bagai tertimpa 1 ton batu mendengar jawaban Tamara tadi.
Kasian, Tamara cuman kasian ma gue…
Batin Adit, diletakkannya gagang telpon kembali ketempatnya. Tak ada yang ingin didengarnya lagi.
**************
Tamara kembali kekamarnya, meninggalkan Mami sendiri di ruang teve. Ada sensasi aneh dalam hatinya.
Adit mo married
Tamara menghela napasnya, Ia yakin bukan cemburu yang memenuhi dadanya.
Sudah hampir 5 tahun sejak Ia dan dan Adit putus untuk yang ke-2 kalinya.
**************
Sebulan berjalan sejak Tamara mengakhiri hubungan yang hanya berumur 2 hari. Adit tak patah semangat, setiap hari Adit masih rajin menelpon Tamara, menjemput dan mengantar pulang usai latihan paduan suara. Tamara binggung dengan sikap Adit tapi juga tak berniat menolak semua perhatian yang Adit berikan padanya. Tamara mempunyai 1 syarat yang harus dipenuhi seorang cowok yang ingin menjadi pacarnya, Tamara tidak suka cowok perokok. Adit, sama seperti remaja tanggung lainnya tentunya sangat akrab dengan rokok tapi demi memenuhi syarat yang diinginkan Tamara, Adit mulai berhenti merokok.
Hal itu tentunya tak luput dari perhatian Tamara, sejak Adit mulai mendekatinya,Tamara tahu Adit mencoba berhenti merokok dan itu sangat mengugah hatinya. Setelah putus, Adit semakin menunjukkan kesungguhan niatnya. Tamara mulai merasa dalam hatinya tumbuh suatu perasaan yang sangat halus untuk Adit.
Suatu kali di minggu siang, usai kebaktian. Tamara, Dilla, Adit dan kent, gebetannya Dilla, jalan-jalan bareng ke mall.
“ Dilla, sini bentar!”
Adit menarik tangan Dilla dan membawanya menepi kearah pagar tangga jalan sementara Tamara dan Kent, sedang asyik memilih-milih pernak-pernik disalah satu rumah bagus yang ada di mall itu.
“apaan”
“ lo liat ga tadi, waktu ngantri karcis bioskop, Tamara tiduran dibahu gw..”
“ masa??”
“iya, kenapa ya?”
“suka kali dia ma kamu”
“gitu ya..asik..asik”
“jangan kesenangan duluan,siapa tau tadi dia lagi kena amnesia”
Dilla gantian menarik tangan Adit kembali ke Tamara dan Kent.
Beribu imajinasi berterbangan dipikiran Adit. Harapan baru.
“ Tam, ke toilet yuk?”
Ajak Dilla, Tamara mengikuti langkah Dilla keluar dari rumah bagus.
“jangan lama-lama, bentar lagi filmnya mulai”
Seru Adit mengingatkan.
“eh..kata Adit, tadi kamu tiduran dibahunya dia ya?”
Tanya Dilla saat mereka selesai menggunakan toilet dan sedang merapikan penampilan mereka di kaca wastafel.
“ah..kapan?”
Tanya Tamara balik, menutupi rasa malunya.
“waktu ngatri tiket”
“masa sih..Adit kegeeran tuh”
“kalo suka ga papa kok. Ga usah malu.ga dosa tahu!!”
Goda Dilla
“ kamu apaan sih?! Udah ah..udah mulai tuh filmnya”
Elak Tamara. Dalam hati Ia tersenyum dan membenarkan ucapan Dilla tadi hanya saja harga dirinya masih melarangnya untuk mengakuinya, walau hanya pada Dilla.
***************
Adit lulus katekhisasi berbarengan dengan Kent. Acara pelepasan biasa dilakukan saat kebaktian siang, jam 11.00, Dilla dengan bersemangat mengajak Tamara untuk datang.
Bersambung...
Labels: cerpenku


Post a Comment
0 Comments:
Post a Comment